Lumpo, 23 September 2025 – Semangat gotong royong dan kolaborasi lintas pihak kembali terlihat nyata dalam kegiatan dialog praktik baik SDGs melalui Kemitraan MSP yang digelar di dua nagari di Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan: Nagari Sungai Sariak Lumpo dan Nagari Sungai Gayo Lumpo.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama yang memperlihatkan bagaimana kemitraan multipihak (Multi-Stakeholder Partnership/MSP) telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani di tingkat nagari.
Dialog yang berlangsung terbuka ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Bappedalitbang sekaligus Kepala Sekretariat SDGs Kabupaten Pesisir Selatan, Adri, M.Si. Dalam sambutannya, Adri menekankan bahwa setiap program pembangunan – baik di tingkat pusat, kabupaten, maupun nagari – pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, katanya, "Rencana yang baik tidak akan berdampak besar tanpa adanya pembinaan dan pelatihan yang tepat sasaran."
Salah satu bentuk pembinaan yang disoroti adalah program pendampingan yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) bersama masyarakat sejak 2003. Dimulai dari program air bersih, kemitraan terus berkembang hingga sektor pertanian dengan program unggulan Sawah Pokok Murah yang diinisiasi pada 2023. Ikon dari keberhasilan ini adalah sosok Ibu Darmini, petani perempuan yang kini dikenal luas sebagai narasumber dan instruktur berkat ketekunannya dalam mengembangkan pertanian berbiaya rendah namun berkualitas tinggi.
“Perjalanan panjang Ibu Darmini adalah cermin dari praktik baik yang dibangun melalui kemitraan. Ini bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang pemberdayaan, semangat, dan kemandirian,” ujar Adri
Kegiatan ini difasilitasi oleh GIZ-SSTC dipandu oleh Ibu Lingga Suyut, yang mengajak semua pihak untuk berdiskusi secara terbuka. Hadir dalam dialog ini antara lain Wali Nagari, Bamus, Kepala Kampung, perwakilan kelompok tani dan kelompok tani wanita dari dua nagari tersebut.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para peserta berbagi pengalaman tentang manfaat yang mereka rasakan dari kehadiran kemitraan MSP, terutama dalam situasi keterbatasan anggaran di nagari.
“Di tengah keterbatasan anggaran, kehadiran kemitraan MSP menjadi angin segar. Kami merasa tidak sendiri. Ada dukungan, ada bimbingan, dan hasilnya nyata, sumber daya manusia kami meningkat, dan nagari kami berkembang,” ujar salah satu Wali Nagari.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan SSTC GIZ-GFA Sumatera Barat, perangkat Nagari Sungai Sariak Lumpo dan Sungai Gayo Lumpo, Bamus, Kepala kampung serta berbagai kelompok tani, termasuk kelompok tani wanita yang turut berbagi kisah sukses mereka.
Melalui dialog ini, terungkap berbagai praktik baik yang bisa menjadi model replikasi di nagari-nagari lain. Bukan hanya soal teknologi atau program, tapi juga tentang bagaimana semangat kolaborasi dan pendampingan yang konsisten bisa menjadi kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput.
Dengan mengangkat kisah seperti Ibu Darmini dan dampak dari Program Sawah Pokok Murah, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dapat diwujudkan secara nyata melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas.
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.