Pesisir Selatan, 4 Juli 2025 — Komitmen Kabupaten Pesisir Selatan dalam mengakselerasi implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) terus ditunjukkan secara konkret. Memasuki hari ketiga pelaksanaan kegiatan Penguatan Kapasitas Pengelolaan TPB/SDGs Tahap I, sebuah langkah penting dilakukan dengan peluncuran resmi Platform Dapur Kolaborasi TPB/SDGs yang dipimpin oleh Sekretaris Bapedalitbang sekaligus Ketua Sekretariat Dapur Kolaborasi Kabupaten Pesisir Selatan, Adri, M.Si.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Mandeh Lt. 2 Bapedalitbang Kabupaten Pesisir Selatan ini dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari perangkat daerah, GIZ-GFA Provinsi Sumatera Barat, GIZ SDGs Advisor, LP2M Sumbar, lembaga profesi, hingga peserta daring dari camat, wali nagari, dan kelompok tani dari Nagari Sungai Sariak Lumpo dan Sungai Gayo Lumpo.
Sebelum pelaksanaan lokakarya dimulai, dilakukan sesi review kegiatan hari kedua oleh Fungsional Perencana, Sovia Dewi, yang membuka kegiatan dengan pengisian kuesioner dan diskusi interaktif untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi sebelumnya. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) sebagai strategi pembangunan inklusif, memastikan tidak ada pihak yang tertinggal dan setiap elemen masyarakat mendapat hak dan ruang partisipasi yang setara dalam pembangunan.
“Pembangunan yang berkeadilan tak hanya soal angka, tapi tentang bagaimana seluruh kelompok masyarakat punya akses dan suara yang sama dalam prosesnya,” ujar Sovia
Hari ketiga ini menghadirkan dua narasumber kunci yang dimoderatori langsung oleh tim Sekretariat Dapur Kolaborasi SDGs Kabupaten Pesisir Selatan.
Marvel Ledo, GIZ Advisor, menyampaikan materi tentang pentingnya kemitraan multi-pihak (Multi-Stakeholder Partnerships/MSP) dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga non-pemerintah adalah solusi strategis untuk menyelesaikan persoalan kompleks yang tidak bisa ditangani satu pihak saja.
“Dalam MSP, Kolaborasi ini bukan pilihan, tapi kebutuhan,setiap pemangku kepentingan membawa sumber daya, perspektif, dan keahlian unik yang saling melengkapi demi mewujudkan solusi yang inklusif dan berkelanjutan, dan mencapai tujuan bersama yang kompleks,” ujar Marvel.
Sementara itu, Winastwan Gora Swajati, National Expert GIZ-GFA, menyoroti pentingnya tata kelola data sebagai fondasi dalam perencanaan dan pelaksanaan TPB/SDGs di tingkat daerah. Ia menyebutkan bahwa pengambilan keputusan yang efektif dan berbasis bukti hanya bisa tercapai melalui sistem data yang solid, terstruktur, dan dapat diakses lintas sektor.
“Data bukan hanya alat pelengkap, tetapi menjadi tulang punggung dalam proses perencanaan, monitoring, hingga evaluasi. Kualitas implementasi SDGs sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan data itu sendiri,” ungkap Gora.
Puncak kegiatan hari ketiga ditandai dengan peluncuran platform DapurKolaborasi.SDGs.Space, sebuah terobosan digital yang dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan dan pelaporan capaian SDGs secara transparan dan partisipatif. Gora memandu langsung simulasi penggunaan platform mulai dari registrasi akun, pengisian profil, input metadata hingga analisis capaian berdasarkan indikator yang relevan.
Platform ini diharapkan menjadi ruang bersama bagi seluruh pemangku kepentingan di Pesisir Selatan untuk membangun sinergi, memperkuat koordinasi, dan mempercepat pencapaian SDGs dengan prinsip inklusi dan kolaborasi.
Dengan berakhirnya hari ketiga kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menegaskan kesiapannya menjadi daerah pelopor dalam pengelolaan SDGs berbasis data dan kolaborasi lintas sektor yang kuat.
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.