Pengumuman
Logo RSUD

BAPPERIDA

Kabupaten Pesisir Selatan

TREN NEGATIF PADA PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN

28 Jun 2024 15:36:24 WIB 99x dibaca Kontributor

Tren Negatif pada Pengangguran dan Kemiskinan

Dalam beberapa tahun terakhir, melihat publikasi capaian pembangunan yang dirilis BPS maupun sumber data valid lainnya terlihat capaian makro pembangunan Pesisir Selatan berada pada tren yang positif meskipun posisinya belum yang terdepan di Sumatera Barat. Indikator yang capaiannya negatif tampak pada pengangguran dan kemiskinan.

Angka pengangguran Pesisir Selatan meskipun trennya negatif, namun pencapaiannya telah melampaui target akhir RPJMD saat ini yaitu sebesar 4,75%. Ini adalah angka pengangguran termasuk rendah di Provinsi Sumatera Barat meskipun angka ini mengalami kenaikan dari tahun lalu sebesar 0,14%.

Kenaikan angka pengangguran ini diperkirakan terjadi karena bertambahnya jumlah pencari kerja aktif pada akhir – akhir ini.

Berikutnya tren negatif juga terjadi pada capaian angka kemiskinan. Publikasi BPS memperlihatkan terjadi kenaikan angka kemiskinan Pesisir Selatan dari 7,11% pada tahun 2022 menjadi 7,34% pada tahun 2023. Kondisi ini kerap menjadi sorotan berbagai pihak dan menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial.

Bila kita telaah lebih jauh, kenaikan angka kemiskinan ini terjadi bukan karena pertumbuhan tidak meningkat, namun keadaan ini terjadi karena naiknya garis atau ambang batas standar kemiskinan Kabupaten Pesisir Selatan dari kisaran 526 ribu rupiah pada tahun 2022 menjadi 554 ribu rupiah pada tahun 2023 atau naik sebesar 4,9%.

Kondisi inilah yang mengakibatkan masyarakat Pesisir Selatan yang sebelumnya terpetakan tidak miskin terseret menjadi miskin bila diukur menurut ambang batas kemiskinan itu.

Faktor lain yang juga mempengaruhi kondisi tersebut adalah mayoritas lapangan pekerjaan utama masyarakat miskin dan rentan miskin berada pada sektor pertanian.

Sektor yang sangat rentan karena produktivitasnya dipengaruhi oleh banyak hal antara lain; kondisi iklim dan cuaca yang kerap terjadi anomali dan sulit diprediksi serta ketergantungan terhadap suplai bahan lainnya yang cukup tinggi seperti ketersediaan benih, pupuk, pestisida dan lain sebagainya.

Artinya begitu rantai produksi pertanian mengalami gangguan, maka dampaknya adalah gangguan terhadap produktivitas dan berujung pada lemahnya nilai tukar petani dan tentunya berakibat pada bertambahnya kemiskinan.

Disisi lain, meskipun imbas dari naiknya garis kemiskinan ini kita rasakan, namun Pesisir Selatan dinilai cukup berhasil dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrim dari 0,47% atau dari 2.170 jiwa pada tahun 2022 menjadi 0,17 % atau 800 jiwa pada tahun 2023.

Hal ini bisa diakselerasi karena dalam dua tahun terakhir Pesisir Selatan cukup fokus melakukan intervensi penghapusan kemiskinan ekstrim melalui program perlindungan sosial yang langsung menyasar individu masyarakat miskin seperti BPJS gratis, bantuan pendidikan, kebijakan afirmasi lainnya dan upaya meningkatkan pendapatan mereka melalui program pemberdayaan masyarakat serta upaya penyediaan infrastruktur untuk meminimalisir wilayah kantong kemiskinan.

Pesisir Selatan optimis, bahwa dengan tekad yang kuat maka pada tahun 2024 target kemiskinan ekstrim menjadi nol persen dan angka kemiskinan turun menjadi 6,65% bisa dicapai.

Semoga segala upaya yang tengah dilakukan untuk menurunkan angka kemiskinan mendapatkan dukungan dari berbagai komponen masyarakat sehingga penurunan kemiskinan dapat dicapai lebih cepat dari target waktu yang direncanakan.

Bagaimana pendapat Anda?
0
0

0 Komentar

Belum Ada Komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.

Berikan Komentar

Menu Aksesibilitas