Pesisir Selatan, 10 Agustus 2026 — Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, akan menjadi ruang belajar bersama bagi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, melalui Knowledge Exchange atau Pertukaran Pengetahuan pada 11–13 Agustus 2026. Pertemuan lintas daerah ini mempertemukan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, petani, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi multi pihak dalam pelokalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan Program Sustainable Development Goals – South-South and Triangular Cooperation (SDGs-SSTC) Fase II, yang didukung Pemerintah Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Melalui pertukaran pengetahuan antardaerah, program ini mendorong agar pengalaman pembangunan yang telah berkembang di satu daerah dapat dipelajari, diuji relevansinya, dan diadaptasi sesuai kebutuhan daerah lain.
Berbeda dari kunjungan pembelajaran satu arah, knowledge exchange antara Pesisir Selatan dan TTU dirancang sebagai proses saling belajar. Pesisir Selatan akan berbagi pengalaman mengenai penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) atau Sawah Pokok Murah (SPM) serta tata kelola kolaborasi pembangunan melalui Sekretariat SDGs atau Dapur Kolaborasi SDGs. Sementara itu, TTU akan berbagi pengalaman mengenai Eco-Enzym yang telah dikembangkan dalam konteks pertanian dan pengelolaan bahan organik.
Pertukaran tersebut mempertemukan dua pengalaman yang berkembang dalam konteks wilayah berbeda. Dari Pesisir Selatan, peserta akan melihat bagaimana praktik budidaya padi dikembangkan bersama petani dan bagaimana kolaborasi multi pihak dibangun untuk mendukung agenda pembangunan daerah. Dari TTU, peserta akan mempelajari pengalaman pengembangan Eco-Enzym yang dapat menjadi alternatif pemanfaatan bahan organik dan kemudian melihat peluang adaptasinya sesuai kebutuhan lokal.
Kepala BAPPERIDA Kabupaten Pesisir Selatan, Subchandri, S.E., M. Si mengatakan bahwa nilai penting dari kegiatan ini bukan sekedar memindahkan sebuah praktik dari satu daerah ke daerah lain, melainkan membangun proses pembelajaran yang memungkinkan setiap pengalaman dipahami sesuai konteksnya.
“Bagi kami, knowledge exchange bukan tentang memindahkan sebuah praktik dari satu daerah ke daerah lain. Yang lebih penting adalah saling memahami proses, bukti, tantangan, dan konteksnya, sehingga setiap pengalaman dapat diadaptasi menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.”
Salah satu praktik yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah MTOT, pendekatan budidaya padi yang dikembangkan dengan mengurangi tahapan pengolahan tanah dan memanfaatkan mulsa. Praktik tersebut dinilai relevan untuk dipelajari karena berkaitan langsung dengan upaya meningkatkan efisiensi budidaya dan membantu petani mengendalikan biaya produksi.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui paparan di ruang pertemuan. Peserta akan turun langsung ke lokasi praktik di Nagari Sungai Gayo Lumpo dan Nagari Sungai Sariak Lumpo, bertemu dengan kelompok tani, melihat penerapan MTOT, serta berdiskusi mengenai manfaat dan tantangan yang dihadapi petani dalam penerapannya.
Selain praktik di lahan, pengalaman Pesisir Selatan dalam membangun kolaborasi pembangunan menjadi bagian penting dari pertukaran pengetahuan.
Subchandri menambahkan melalui Dapur Kolaborasi SDGs, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan berupaya menyediakan ruang bagi pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk bertemu, berbagi pengetahuan, serta mencari solusi bersama terhadap persoalan pembangunan.
“Pengalaman Pesisir Selatan menunjukkan bahwa kolaborasi tidak harus dibangun melalui satu forum untuk semua persoalan. MSP dapat tumbuh sesuai isu dan kebutuhan daerah, dengan mempertemukan aktor yang relevan. Karena itu, yang ingin kami bagikan kepada TTU bukan hanya bentuk kelembagaannya, tetapi cara membangun ekosistem kolaborasi agar berbagai pihak dapat mengambil peran dalam pembangunan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik bagi TTU karena keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama.
Dalam konteks inilah Multi-Stakeholder Partnership (MSP) menjadi bagian penting dari knowledge exchange. Peserta tidak hanya belajar mengenai sebuah teknologi atau praktik pertanian, tetapi juga mengenai bagaimana pengetahuan, sumber daya, dan peran berbagai pihak dapat dipertemukan untuk menghasilkan perubahan di tingkat lokal. Di sisi lain, TTU membawa pengalaman yang akan menjadi sumber pembelajaran bagi Pesisir Selatan melalui Eco-Enzym.
Pada sesi teknis, peserta akan mempelajari proses produksi, pengendalian atau standar kualitas, serta pemanfaatan Eco-Enzym berdasarkan pengalaman yang telah dikembangkan di TTU. Pembelajaran tersebut diharapkan membuka peluang bagi Pesisir Selatan untuk melihat pemanfaatan bahan organik dari perspektif yang berbeda dan mengidentifikasi kemungkinan penerapannya sesuai kondisi lokal.
Seluruh proses pembelajaran tersebut akan berlangsung dalam rangkaian kegiatan selama tiga hari. Peserta akan memulai kegiatan dengan koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan dan Sekretariat SDGs, kemudian mendalami tata kelola SDGs dan kolaborasi multi pihak. Pembelajaran dilanjutkan dengan praktik MTOT bersama kelompok tani di Nagari Sungai Gayo Lumpo dan Nagari Sungai Sariak Lumpo, serta sesi teknis mengenai Eco-Enzym. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memastikan hasil pertukaran pengetahuan dapat diteruskan setelah kegiatan berakhir.
Bagi kedua daerah, keberhasilan pertukaran pengetahuan tidak berhenti pada tiga hari pertemuan, tetapi pada apa yang dapat diterapkan dan dikembangkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.
Pertukaran pengetahuan tidak dimaksudkan berhenti pada tiga hari pertemuan. Kedua daerah akan mendorong tindak lanjut berupa pembentukan tim pelatih lokal, penguatan petani ahli, pengembangan plot demonstrasi MTOT yang terintegrasi dengan pembelajaran Eco-Enzym, dokumentasi praktik baik, serta penguatan jejaring kerja sama antardaerah. Rencana tindak lanjut dan target replikasi akan difinalisasi bersama oleh kedua daerah pada akhir rangkaian knowledge exchange.”
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari terlaksananya pertukaran pengetahuan, tetapi dari kemampuan masing-masing daerah menerjemahkan pembelajaran menjadi tindakan nyata.
Bagi Kabupaten Pesisir Selatan, kesempatan menjadi tuan rumah knowledge exchange juga memperkuat posisi daerah sebagai bagian dari jejaring pembelajaran pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pengalaman yang dibagikan tidak lahir hanya dari kebijakan pemerintah, tetapi dari praktik yang berkembang di lapangan—dari kelompok tani, penyuluh, komunitas, organisasi masyarakat, dan berbagai pihak yang bekerja bersama menjawab persoalan pembangunan.
Pada saat yang sama, Pesisir Selatan juga belajar dari TTU. Pertemuan ini menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi daerah lain. Dari nagari hingga kabupaten, dari petani hingga pemerintah daerah, inovasi pembangunan dapat tumbuh ketika pengetahuan dibagikan dan dikembangkan bersama.
Melalui pertukaran pengetahuan ini, Pesisir Selatan dan TTU diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman baru, tetapi juga membangun jejaring, kapasitas, dan aksi bersama untuk mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan, masyarakat yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Tentang Program SDGs-SSTC
Program Sustainable Development Goals – South-South and Triangular Cooperation (SDGs-SSTC) Fase II merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) untuk mendukung pelokalan SDGs di tingkat daerah.
Program ini mendukung penguatan tata kelola pembangunan berkelanjutan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, manajemen data SDGs, pengembangan Multi-Stakeholder Partnership (MSP), serta pertukaran pengetahuan antarwilayah sebagai bagian dari upaya mempercepat pencapaian Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Kontak Media
(WITJAYA, 0756 7464085)
(BAPPERIDA)
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.