Pengumuman
Logo RSUD

BAPPERIDA

Kabupaten Pesisir Selatan

TTU–Pesisir Selatan Bertukar Inovasi Pertanian, MTOT dan EcoEnzyme Jadi Fokus Pembelajaran

12 Aug 2026 08:37:29 WIB 4x dibaca MS. Sukma Witjaya
TTU–Pesisir Selatan Bertukar Inovasi Pertanian, MTOT dan EcoEnzyme Jadi Fokus Pembelajaran

Pesisir Selatan, 11 Agustus 2026 — Pemerintah  Kabupaten Pesisir Selatan menerima kunjungan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dalam hal pertukaran pengetahuan untuk mempelajari praktik baik inovasi pertanian sekaligus berbagi pengalaman dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 11–13 Agustus 2026, mempertemukan dua praktik inovasi yang lahir dari karakteristik wilayah berbeda. Kabupaten Pesisir Selatan memperkenalkan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT)/Sawah Pokok Murah (SPM), sementara Kabupaten TTU berbagi pengalaman penerapan EcoEnzyme dalam mendukung pertanian berkelanjutan.

Rombongan TTU berjumlah sekitar 23 orang dan dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTU, Chairel Malelak. Dalam rombongan tersebut turut bergabung Tim GIZ-SDGs SSTC Pusat, GIZ Provinsi, serta LP2M Provinsi Sumatera Barat.

Kedatangan rombongan disambut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Pesisir Selatan, Subchandri, S.E., M.Si., di Aula Mandeh Lantai II Bapperida. Dalam sambutannya, Subchandri menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pertukaran pengetahuan tersebut dan berharap kegiatan menjadi studi komparatif yang memberikan manfaat bagi kedua daerah.

Menurutnya, perbedaan kondisi geografis dan persoalan pembangunan justru menjadi ruang untuk saling belajar. Masing-masing daerah dapat berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi, inovasi yang telah dikembangkan, serta solusi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik wilayah.

“Semoga pertemuan ini dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita dari daerah masing-masing, termasuk masalah, kendala, dan inovasi untuk mencari solusi bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Subchandri.

Pembelajaran kemudian diarahkan tidak hanya melalui diskusi, tetapi juga praktik lapangan yang didampingi Sekretariat SDGs Kabupaten Pesisir Selatan.

Dari pihak GIZ-SDGs SSTC, Commission Manager GIZ-SDGs SSTC, Zulazmi, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan. Ia menegaskan bahwa pertukaran pengetahuan dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta melalui pengamatan dan praktik lapangan. Ia juga berharap kegiatan dapat dilanjutkan dengan kunjungan tim Pesisir Selatan ke Kabupaten TTU.

Sementara itu, Chairel Malelak menjelaskan bahwa salah satu alasan utama delegasi TTU mempelajari MTOT adalah kondisi wilayahnya yang memiliki periode musim kering lebih panjang dibandingkan musim hujan. Karena itu, metode yang berpotensi menghemat penggunaan air dan biaya produksi dinilai relevan untuk dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

“Kami datang dengan semangat untuk mempelajari MTOT karena di Kabupaten TTU musim kering lebih lama dibandingkan musim basah. Kami melihat metode ini sangat cocok untuk dipelajari,” ungkapnya.

Ia berharap pertukaran pengetahuan tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selesai, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas di bidang pertanian antara Kabupaten TTU dan Pesisir Selatan.

Pengetahuan Harus Berujung pada Praktik

Setelah kegiatan di Bapperida, rombongan melanjutkan kunjungan ke Kantor Bupati Pesisir Selatan dan diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Syahrizal Antoni.

Syahrizal menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menyambut baik kehadiran delegasi TTU sebagai bagian dari upaya memperkuat pembelajaran dan kerja sama antardaerah.

Ia menilai pertukaran pengetahuan akan memiliki makna lebih besar apabila pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

“Jangan sampai pertukaran pengetahuan ini berhenti pada kegiatan selama tiga hari. Kita datang bukan hanya untuk melihat, bukan hanya untuk mendengar, dan bukan hanya untuk membawa pulang dokumentasi. Kita datang untuk membawa pulang pengetahuan yang kemudian menjadi tindakan,” tegasnya.

Menurut Syahrizal, pengalaman TTU mengenai Eco-Enzyme dapat menjadi inspirasi bagi Pesisir Selatan dalam memperkaya praktik pembangunan pertanian dan pengelolaan lingkungan. Sebaliknya, pengalaman Pesisir Selatan dalam penerapan MTOT dan SPM diharapkan dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi TTU.

MTOT Dorong Efisiensi Pertanian

Dalam dialog bersama pemerintah daerah dan kelompok tani, inovasi MTOT menjadi salah satu materi utama pembelajaran. Kepala Bapperida Kabupaten Pesisir Selatan menekankan pentingnya pengembangan pertanian organik seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Penerapan MTOT diarahkan untuk menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas lahan, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Hamdi, menjelaskan bahwa penerapan metode tersebut dapat menghasilkan sedikitnya lima ton/Hekter hasil panen dengan memanfaatkan bahan alami, antara lain pupuk kandang dan cangkang telur.

Teknik pengelolaan tanah melalui perendaman juga disebut dapat menekan kebutuhan air dan pupuk. Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian delegasi TTU karena memiliki relevansi dengan kondisi wilayah yang menghadapi keterbatasan air.

Pengalaman Nagari Sungai Gayo Lumpo

Pembelajaran lapangan dilanjutkan dengan melihat pengalaman penerapan Sawah Pokok Murah (SPM) di Nagari Sungai Gayo Lumpo.

Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo bersama champion pertanian setempat, Dharmini, menjelaskan perkembangan penerapan SPM yang saat ini telah memasuki panen kedelapan.

Dalam pengalaman tersebut, hasil panen perdana disebut meningkat hingga 2,5 kali lipat dibandingkan metode konvensional. Produk beras organik yang dihasilkan juga disebut memiliki keterkaitan dengan upaya mendukung penanganan stunting dan telah memperoleh dukungan riset dari perguruan tinggi.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran kepada delegasi TTU mengenai penerapan inovasi pertanian dari tingkat lapangan, termasuk bagaimana inovasi dikembangkan bersama petani dan masyarakat.

TTU Susun Rencana Adaptasi Eco-Enzyme

Pertukaran pengetahuan juga menghasilkan gagasan awal dari delegasi TTU untuk mengembangkan Eco-Enzyme sesuai kondisi daerah mereka.

Chairel, perwakilan delegasi TTU, menyampaikan rencana yang mencakup pelatihan dan distribusi sekitar 70.000 liter Eco-Enzyme ke 600 lokasi, pembangunan bank Eco-Enzyme, serta pengembangan demplot pertanian mandiri.

Program tersebut diarahkan untuk membantu optimalisasi unsur hara tanah sekaligus menjadi salah satu pendekatan menghadapi keterbatasan air dan anggaran di wilayah TTU.

Dengan pendekatan tersebut, inovasi yang dipertukarkan tidak ditempatkan sebagai konsep yang harus diterapkan secara sama persis, tetapi sebagai pengetahuan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah.

Rumuskan Tindak Lanjut

Rangkaian hari pertama ditutup melalui sesi refleksi bersama di Langkisau Resort. Forum tersebut dimanfaatkan untuk mengevaluasi hasil pembelajaran sekaligus menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebelum memasuki agenda teknis pada hari kedua.

Pertukaran pengetahuan antara TTU dan Pesisir Selatan diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring pembelajaran dan kerja sama antar daerah. Melalui pengalaman EcoEnzyme, MTOT, dan Sawah Pokok Murah, kedua daerah tidak hanya berbagi inovasi, tetapi juga membuka peluang untuk mengadaptasi praktik yang sesuai dengan kondisi lokal demi mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Bagaimana pendapat Anda?
1
0

0 Komentar

Belum Ada Komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.

Berikan Komentar

Menu Aksesibilitas