Pengumuman
Logo RSUD

BAPPERIDA

Kabupaten Pesisir Selatan

Menanam Harapan di Tanah Pesisir, TTU Turun ke Sawah Belajar MTOT

13 Aug 2026 06:50:24 WIB 5x dibaca MS. Sukma Witjaya
Menanam Harapan di Tanah Pesisir, TTU Turun ke Sawah Belajar MTOT

Pesisir Selatan, 12 Agustus 2026 — Pertukaran pengetahuan antara Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memasuki hari kedua dengan pembelajaran langsung di lapangan. Bertempat di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, delegasi TTU mempelajari sekaligus mempraktikkan penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) yang di tingkat nagari dikenal dengan Sawah Pokok Murah (SPM).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian knowledge exchange selama tiga hari, 11–13 Agustus 2026, yang mempertemukan praktik baik dari dua daerah dengan karakteristik wilayah dan tantangan pembangunan yang berbeda.

Jika pada hari pertama pertukaran pengetahuan berlangsung melalui dialog dan berbagi pengalaman antarpemerintah daerah, hari kedua membawa proses pembelajaran langsung ke lahan pertanian. Delegasi TTU tidak hanya melihat penerapan MTOT/SPM, tetapi juga mengikuti praktik dan berdiskusi secara langsung dengan petani agar pengetahuan yang diperoleh dapat dipahami secara utuh dan selanjutnya diadaptasi sesuai kondisi pertanian di TTU.

Pembelajaran MTOT/SPM dipandu oleh petani pakar dampingan Field-UBI, Asmarmon dan Darmini, yang selama ini terlibat dalam pengembangan praktik tersebut di Nagari Sungai Gayo Lumpo.

Belajar dari Pengalaman Petani

Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi TTU, GIZ-SDGs SSTC, LP2M, serta seluruh unsur yang terlibat dalam kegiatan pertukaran pengetahuan.

Ia menegaskan bahwa proses pembelajaran lapangan harus berlangsung secara terbuka. Pengelola SPM memberikan ruang seluas-luasnya kepada delegasi TTU untuk bertanya, mendalami setiap tahapan, serta menyampaikan hal-hal yang masih menjadi keraguan dalam penerapan MTOT/SPM.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh dari Nagari Sungai Gayo Lumpo diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran yang dapat disesuaikan dan dikembangkan di Kabupaten TTU.

Pertukaran pengetahuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus dipindahkan secara utuh dari satu daerah ke daerah lain. Setiap inovasi perlu dipahami prinsipnya, kemudian disesuaikan dengan kondisi lingkungan, karakteristik lahan, kemampuan petani, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Perwakilan LP2M juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan petani dalam proses pengembangan inovasi.

“MTOT bukan tentang memindahkan cara kerja dari satu tempat ke tempat lain, tapi tentang beradaptasi,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau metode yang diperkenalkan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan masyarakat. Petani akan lebih mudah menerima perubahan ketika mereka dapat melihat dan merasakan sendiri hasil yang diperoleh dari praktik tersebut.

Mendorong Pertanian yang Lebih Ramah Lingkungan

Kepala BPP Kecamatan IV Jurai, Oktavian, berharap pengetahuan yang diperoleh delegasi TTU dapat dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah tersebut.

Ia menilai MTOT/SPM memiliki nilai penting dalam upaya membangun kembali ekosistem pertanian yang lebih sehat, terutama di tengah penggunaan pestisida yang selama ini cukup intensif dalam praktik pertanian konvensional.

Penerapan metode yang lebih ramah terhadap tanah diharapkan dapat membantu menjaga kondisi lahan sekaligus mendorong petani untuk menggunakan bahan-bahan yang lebih alami dalam proses budidaya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Hamdi, menjelaskan bahwa pengembangan MTOT/SPM juga diarahkan untuk menjawab persoalan produktivitas lahan, khususnya pada kawasan pertanian yang mengalami gangguan irigasi maupun sawah tadah hujan.

Menurut Hamdi, penerapan metode tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan indeks pertanaman sehingga lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih optimal dengan target dua hingga tiga kali tanam dalam setahun pada lahan yang memungkinkan.

Saat ini, indeks pertanaman Kabupaten Pesisir Selatan berada pada angka sekitar 1,8. Dengan luas lahan sawah sekitar 22.000 hektare, Pesisir Selatan mampu menghasilkan sekitar 170.000 ton gabah kering per tahun dan memiliki surplus beras sekitar 50.000 ton.

“Potensi yang ada masih dapat terus dioptimalkan melalui peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman,” jelasnya.

Dari Pengalaman Darmini: Bertani dengan Bahan yang Ada di Sekitar

Pembelajaran lapangan semakin menarik ketika Darmini, salah seorang petani pakar pendamping Field-UBI, membagikan pengalaman penerapan MTOT di lahan pertanian.

Dengan pengalaman yang diperolehnya selama menerapkan metode tersebut, Darmini menjelaskan sejumlah perubahan yang dirasakan pada lahan, termasuk kondisi tanah yang dinilai lebih sehat serta berkurangnya gangguan organisme tertentu yang selama ini kerap ditemukan pada lahan pertanian konvensional.

Ia juga memperagakan pembuatan pestisida nabati menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan masyarakat, seperti air beras fermentasi, bawang putih, dan cabai rawit.

Bagi Darmini, penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan bukan semata-mata persoalan menghemat biaya produksi. Lebih dari itu, praktik tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tanah dan lingkungan agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Bertani itu yang penting mau,” tegasnya.

Pesan sederhana tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran hari kedua: bahwa inovasi tidak selalu identik dengan teknologi mahal. Dalam banyak hal, inovasi dapat tumbuh dari pengalaman petani, pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar, serta keberanian untuk mencoba dan membuktikan.

Tiga Lokasi Disiapkan untuk Adaptasi MTOT di TTU

Pertukaran pengetahuan tersebut mulai bergerak dari tahap pembelajaran menuju rencana penerapan.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan MTOT/SPM melalui penyediaan dan penguatan demplot-demplot pertanian sebagai ruang pembelajaran dan pembuktian di lapangan.

Sementara itu, Kabupaten TTU telah menyiapkan tiga lokasi sebagai tahap awal untuk mencoba menerapkan metode MTOT sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari semangat utama pertukaran pengetahuan, yakni tidak berhenti pada kegiatan melihat dan mendengar, tetapi membawa pulang pengetahuan untuk diuji, disesuaikan, dan dikembangkan di daerah masing-masing.

Bagi TTU, pembelajaran MTOT/SPM menjadi relevan dengan karakteristik wilayah yang memiliki periode musim kering relatif panjang. Sementara bagi Pesisir Selatan, pengalaman TTU dalam pengembangan Eco-Enzyme menjadi pengetahuan yang akan dipelajari dalam rangkaian kegiatan berikutnya.

Dengan demikian, proses pertukaran berlangsung dalam semangat kesetaraan: Pesisir Selatan belajar dari TTU, TTU belajar dari Pesisir Selatan.

Dari Sawah, Tumbuh Kolaborasi

Hari kedua pertukaran pengetahuan di Nagari Sungai Gayo Lumpo menunjukkan bahwa pembelajaran pembangunan tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal. Ia dapat tumbuh dari sawah, dari pengalaman petani, dari keberanian mencoba, dan dari kesediaan antardaerah untuk saling belajar.

MTOT/SPM yang dipelajari delegasi TTU bukan sekadar teknik budidaya. Di dalamnya terdapat pengalaman mengenai efisiensi, pemanfaatan bahan alami, pengelolaan tanah, serta bagaimana membangun kembali kepercayaan petani terhadap inovasi yang mereka terapkan sendiri.

Kegiatan ini diikuti oleh rombongan Pemerintah Kabupaten TTU, GIZ-SDGs SSTC, Sekretariat SDGs Kabupaten Pesisir Selatan, Bapperida Kabupaten Pesisir Selatan, LP2M, Kelompok Wanita Tani (KWT) Nagari Sungai Gayo Lumpo, Wali Nagari beserta perangkat, serta unsur petani setempat.

Pertukaran pengetahuan TTU–Pesisir Selatan pun semakin menegaskan satu hal: inovasi akan memiliki makna ketika pengetahuan tidak berhenti pada cerita, tetapi diterjemahkan menjadi praktik dan memberi manfaat bagi masyarakat.

 

Bagaimana pendapat Anda?
1
0

0 Komentar

Belum Ada Komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.

Berikan Komentar

Menu Aksesibilitas