Pengumuman
Logo RSUD

BAPPERIDA

Kabupaten Pesisir Selatan

Eco-Enzyme Dibawa ke Pesisir Selatan, MTOT Dibawa ke TTU

14 Aug 2026 14:27:47 WIB 4x dibaca MS. Sukma Witjaya
Eco-Enzyme Dibawa ke Pesisir Selatan, MTOT Dibawa ke TTU

Pesisir Selatan, 13 Agustus 2026 — Rangkaian pertukaran pengetahuan antara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memasuki hari ketiga sekaligus agenda penutup. Setelah dua hari sebelumnya delegasi TTU mempelajari Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) atau Sawah Pokok Murah (SPM), pada hari terakhir giliran Pesisir Selatan mempelajari praktik Eco-Enzyme yang dikembangkan di TTU.

Pembelajaran berlangsung melalui diskusi dan praktik langsung pembuatan Eco-Enzyme yang dipandu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTU bersama petani dan penyuluh. Para peserta dari Pesisir Selatan mengikuti setiap tahapan secara langsung, mulai dari pengenalan bahan hingga proses pengolahan, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan di lapangan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang praktik berlangsung. Berbagai pertanyaan disampaikan untuk memastikan setiap tahapan dapat dipahami dengan baik, termasuk cara pemanfaatan dan pengembangan produk setelah proses fermentasi.

Dalam pembelajaran tersebut dijelaskan bahwa program Eco-Enzyme di Kabupaten TTU telah berjalan selama sekitar enam tahun dan dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus pemanfaatan bahan organik untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Program tersebut dikaitkan dengan upaya mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Goals 11, 12, 13, 14, 15, dan 17.

Hingga saat ini, sekitar 70.000 liter Eco-Enzyme telah didistribusikan dengan jaringan yang berkembang hingga 22 kabupaten, 75 kelompok secara nasional, bahkan menjangkau luar negeri.

Eco-Enzyme dibuat melalui fermentasi bahan organik berupa buah, gula, dan air selama sedikitnya tiga bulan. Komposisi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut menggunakan perbandingan 1 kilogram gula, 3 kilogram buah, dan 10 liter air.

Hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, antara lain sebagai bahan pendukung pertanian, pupuk dan pestisida alami, kebutuhan peternakan, serta dekomposer dalam pengelolaan bahan organik.

Dalam praktik hari ketiga, peserta juga menghasilkan biang Eco-Enzyme, NPK organik, dan pupuk bokashi yang selanjutnya dapat dimanfaatkan setelah melalui proses fermentasi secara sempurna.

Pertukaran pengetahuan selama tiga hari kemudian diarahkan pada penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar hasil pembelajaran dapat diterapkan oleh kedua daerah.

Di Kabupaten Pesisir Selatan, Eco-Enzyme akan mulai diuji coba di lahan pertanian Nagari Sungai Gayo Lumpo sebagai bagian dari upaya memperkuat produktivitas dan nilai tambah usaha pertanian.

Kelompok tani setempat yang diwakili Darmini menyatakan komitmennya untuk mempelajari dan mengembangkan praktik pembuatan Eco-Enzyme di tingkat petani.

Di sisi lain, para penyuluh pertanian Kabupaten TTU juga akan membawa pengetahuan mengenai MTOT/SPM yang diperoleh dari Pesisir Selatan untuk dikembangkan di wilayah binaan masing-masing. Sebelumnya, TTU telah menyiapkan tiga lokasi sebagai tahap awal penerapan metode tersebut.

Dengan demikian, pertukaran pengetahuan tidak berhenti pada kunjungan tiga hari. Kedua daerah mulai membawa pulang inovasi masing-masing untuk diuji, disesuaikan, dan dikembangkan berdasarkan kondisi lokal.

Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Dinas Pertanian menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kolaborasi antara TTU dan Pesisir Selatan. Menurutnya, pertukaran pengetahuan telah memberikan manfaat timbal balik, terutama dalam membuka ruang bagi petani dan penyuluh untuk mengenal pendekatan baru dalam pengembangan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan penerapan teknologi atau metode baru, tetapi juga menumbuhkan semangat inovasi di kalangan petani dan pemerintah daerah.

Pertukaran MTOT/SPM dan Eco-Enzyme memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi daerah lainnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan Dinas Pertanian Pesisir Selatan, kelompok tani TTU, kelompok tani Pesisir Selatan, dan GIZ sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan kerja sama lintas daerah.

Pada kesempatan yang sama, delegasi Kabupaten TTU menyerahkan tiga jenis buku tentang Eco-Enzyme kepada Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan sebagai bahan pembelajaran dan referensi untuk pengembangan lebih lanjut.

Tiga hari pertukaran pengetahuan TTU–Pesisir Selatan akhirnya sampai pada satu kesimpulan penting: inovasi akan memberi arti ketika pengetahuan dibawa pulang, dipraktikkan, dan diterjemahkan menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Dari Pesisir Selatan, TTU membawa pulang pembelajaran MTOT/Sawah Pokok Murah. Dari TTU, Pesisir Selatan membawa pulang pengetahuan Eco-Enzyme. Keduanya menjadi modal untuk membangun pertanian yang lebih efisien, adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

https://dapurkolaborasi.pesisirselatankab.go.id/news/24

Bagaimana pendapat Anda?
1
0

0 Komentar

Belum Ada Komentar

Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.

Berikan Komentar

Menu Aksesibilitas